Lisan yang Bersih Sebagai Pembuka Pintu Langit
Pernahkah Sahabat MQ merasa doa-doa seolah tertahan dan sulit untuk diijabah? Salah satu penyebabnya bisa jadi karena lisan kita masih sering digunakan untuk hal-hal yang tidak disukai Allah, seperti berbohong atau mencela. Aa Gym menjelaskan bahwa lisan yang sering berzikir dan terjaga dari dosa akan memiliki “bobot” yang berbeda di hadapan Allah SWT.
Orang yang mampu menahan lisannya dari perkataan sia-sia biasanya memiliki kedekatan batin yang lebih kuat dengan Sang Pencipta. Ketika lisan sudah terbiasa dengan kalimat thayyibah, maka saat kita memohon sesuatu, Allah akan lebih mudah memberikan pertolongan-Nya. Sahabat MQ perlu melatih kejujuran dan kelembutan tutur kata agar doa-doa kita lebih mustajab.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman mengenai hamba yang mendekat kepada-Nya:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Artinya: “…dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya” (HR. Bukhari). Menjaga lisan adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dicintai-Nya.
Menghindari Penyakit Lisan: Ghibah dan Celaan
Ada enam penyakit lisan yang sering disebutkan dalam Surah Al-Hujurat yang harus Sahabat MQ hindari agar hati tetap bersih. Mulai dari mengejek, mencela, hingga memanggil dengan gelaran buruk adalah perbuatan yang sangat dibenci. Aa Gym mengingatkan bahwa melakukan hal-hal tersebut hanya akan membuat hidup kita penuh dengan masalah dan konflik.
Penyakit lisan seperti ghibah (membicarakan aib orang lain) ibarat memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Bayangkan betapa menjijikkannya hal tersebut, namun sering kali kita melakukannya tanpa sadar saat berkumpul. Sahabat MQ harus berani mengalihkan pembicaraan atau diam ketika suasana mulai mengarah pada ghibah.
Larangan keras ini tertuang dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ
Artinya; “…dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik…”
Mengganti Kata Sia-sia dengan Murajaah Al-Qur’an
Daripada menghabiskan waktu untuk mengobrol hal yang tidak ada manfaatnya, Aa Gym menyarankan Sahabat MQ untuk mengisi waktu luang dengan murajaah hafalan. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain atau saat menunggu bisa menjadi ladang pahala jika lisan sibuk melantunkan ayat-ayat suci. Ini adalah cara terbaik untuk menjaga lisan agar tidak tergelincir pada kemaksiatan.
Dengan menyibukkan lisan dalam zikir dan Al-Qur’an, pikiran Sahabat MQ akan terjaga dari hal-hal negatif. Hafalan Al-Qur’an tidak hanya terjaga di memori, tetapi juga memberikan cahaya pada wajah dan ketenangan pada jiwa. Mari kita kurangi frekuensi bicara duniawi yang berlebihan dan perbanyak interaksi dengan kalamullah.
Allah SWT berfirman tentang ketenangan melalui zikir dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” Inilah solusi bagi Sahabat MQ yang merindukan kedamaian hidup.