Urutan Penciptaan Sistem Sensorik dalam Rahim

Sahabat MQ, jika kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara saksama, terdapat sebuah pola yang sangat menarik terkait penyebutan indra manusia. Allah Subhanahu wa taala hampir selalu mendahului penyebutan kata pendengaran (sam’a) sebelum kata penglihatan (bashar). Pola urutan ini rupanya menyimpan rahasia medis yang sangat mendalam mengenai kronologi perkembangan janin di dalam rahim ibu.

Secara embriologis, sistem pendengaran bayi berkembang dan mulai berfungsi jauh lebih awal dibandingkan dengan sistem penglihatan. Janin dalam kandungan sudah mampu merespons dan merekam suara-suara dari luar lingkungan rahim sejak usia kehamilan memasuki trimester kedua.

Sementara itu, indra penglihatan baru akan terbuka dan belajar memfokuskan objek beberapa saat setelah bayi dilahirkan ke dunia. Urutan redaksi Al-Qur’an ini menjadi bukti mukjizat ilmiah yang selaras dengan ilmu kedokteran modern.

Tingkat Sensitivitas Indra Pendengaran Saat Manusia Tertidur

Keunikan lain dari indra pendengaran adalah tingkat sensitivitas dan cara kerjanya yang tidak pernah benar-benar mati, bahkan ketika kita sedang tertidur lelap. Saat seseorang tidur, kelopak mata akan menutup rapat dan sistem penglihatan praktis berhenti menerima informasi visual dari luar. Namun, saluran pendengaran tetap berada dalam posisi siaga dan aktif mendeteksi getaran suara di sekitarnya.

Jika ada paparan cahaya terang di dalam kamar, seseorang yang tertidur mungkin tidak akan langsung terbangun karena proteksi dari kelopak mata. Akan tetapi, jika terdengar suara kegaduhan atau panggilan nama yang keras, sinyal suara tersebut akan langsung diteruskan ke otak dan seketika membangunkan orang tersebut.

Fungsi sensorik pendengaran ini tetap bekerja di atas 60% meskipun tubuh sedang berada dalam fase istirahat total. Hal ini menjadi sistem keamanan alami tubuh yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta demi menjaga manusia dari potensi bahaya saat tidak sadarkan diri.

Menepis Jebakan Kurang Syukur Atas Nikmat Sehat

Kehebatan fungsi organ tubuh yang bekerja otomatis setiap hari ini sering kali luput dari perhatian dan rasa syukur kita sehari-hari. Kita cenderung baru menyadari mahalnya nikmat mendengar atau melihat setelah fungsi organ tersebut mulai menurun atau mengalami kerusakan. Dr. dr. H. Asep Hermana mengingatkan agar kita tidak perlu menunggu jadwal cuci darah di rumah sakit atau memakai alat bantu dengar terlebih dahulu untuk bisa mengucap syukur secara tulus.

Membiasakan diri mengonsumsi “vitamin syukur” dosis tinggi setiap kali bangun pagi adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental dan fisik kita. Menyadari bahwa hembusan napas dan keselamatan yang kita nikmati adalah anugerah besar yang wajib dijaga dengan cara merawat tubuh sebaik mungkin.

Mari kita merenungkan penutup ayat dari surat As-Sajadah ayat 9, di mana Allah menyindir kecenderungan manusia yang sering melupakan nikmat luar biasa ini:

 ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.”