Mengubah Tuntutan Menjadi Tuntunan Nyata

Perjalanan hidup berumah tangga sering kali diwarnai oleh riak-riak kecil akibat perbedaan ekspektasi terhadap perilaku pasangan hidup. Adakalanya muncul rasa kecewa ketika melihat suami atau istri belum menunjukkan tingkat kesalehan atau kedewasaan seperti yang diimpikan. Namun, sebelum sahabat MQ melayangkan protes atau teguran yang berpotensi memicu konflik, alangkah baiknya jika kita merenungkan kembali pendekatan komunikasi apa yang selama ini telah kita gunakan.

Menuntut pasangan untuk berubah dengan cara mendikte atau menyudutkan kekurangannya jarang sekali membuahkan hasil yang manis. Pendekatan yang jauh lebih efektif dan berkah adalah dengan cara mengubah setiap tuntutan tersebut menjadi sebuah tuntunan yang anggun melalui keindahan akhlak kita sendiri. Ketika seorang istri merindukan suami yang lembut, tunjukkanlah terlebih dahulu ketundukan dan tutur kata yang menyejukkan hati, begitu pula sebaliknya bagi suami dalam memperlakukan istrinya.

Kelembutan interaksi dalam rumah tangga ini merupakan cerminan dari kesempurnaan iman seorang hamba. Rasulullah saw. memberikan standar ideal bagi kita semua melalui sabdanya:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُوقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini mengarahkan kita untuk selalu mengevaluasi kualitas perlakuan kita sendiri terlebih dahulu.

Rahasia di Balik Ujian Karakter Pasangan

Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini, termasuk watak pasangan hidup yang terkadang menguji batas kesabaran kita, tidak pernah terjadi secara kebetulan. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menyelipkan maksud-maksud mulia di balik setiap garis takdir yang ditetapkan-Nya bagi seorang hamba. Boleh jadi, kehadiran pasangan dengan karakternya saat ini adalah sebuah media khusus yang Allah desain untuk menggugurkan dosa-dosa masa lalu kita atau mengikis sifat sombong yang masih tersisa.

Apabila sahabat MQ mampu melihat ujian domestik ini dengan kacamata iman, maka tidak akan ada lagi ruang bagi rasa benci atau caci maki di dalam rumah tangga. Kita akan memandang kekurangan pasangan sebagai sebuah undangan dari Allah agar kita memperbanyak tobat dan memohon kekuatan untuk bersabar. Setiap kali batin terasa sesak akibat gesekan interaksi, jadikanlah hal itu sebagai pengingat instan bahwa kita masih sangat membutuhkan pertolongan-Nya.

Kesadaran akan kedekatan Allah dalam setiap embusan napas dan getaran hati kita digambarkan dengan begitu indah di dalam ayat Al-Qur’an:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16). Allah tahu persis setiap kesedihan kita, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan kesabaran yang kita rawat.

Bersandar pada Rahmat Allah yang Luas

Kunci utama dari bertahannya sebuah ikatan pernikahan di atas jalan keberkahan adalah kepasrahan total kepada perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika menghadapi kebuntuan dalam menyamakan visi dengan pasangan, berhentilah mengandalkan kehebatan argumen pribadi yang sering kali justru memperkeruh suasana. Datanglah menghadap Allah di sepertiga malam terakhir, adukan segala keterbatasan diri kita, dan mintalah dengan sangat agar Dia berkenan menautkan kembali hati yang mulai merenggang.

Sahabat MQ harus selalu menanamkan optimisme yang tinggi bahwa tidak ada satu pun kondisi batin manusia yang mustahil untuk diubah jika Allah telah menghendakinya. Tugas kita hanyalah konsisten berada di jalur ketaatan dan menjauhi maksiat, agar rumah tangga kita senantiasa diliputi oleh malaikat-malaikat pembawa rahmat. Teruslah menebar kebaikan tanpa perlu menghitung seberapa besar balasan yang akan kita terima dari pasangan kita.

Doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an untuk memohon anugerah keluarga yang menyejukkan pandangan mata seyogianya senantiasa basah di lisan kita:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74). Semoga dengan doa ini, ketenteraman yang sejati senantiasa menaungi baiti jannati kita.