Menghindari Jebakan Ujub dan Sombong

Sering kali timbul rasa heran mengapa anak-anak zaman sekarang terasa begitu bebal saat diarahkan menuju jalan kebaikan. Namun, pernahkah kita memeriksa dengan saksama bagaimana suasana hati kita saat menyampaikan arahan tersebut? Tanpa disadari, ada kalanya terselip perasaan ujub di dalam dada, merasa bahwa diri kita adalah sosok yang paling tahu, paling benar, dan paling berjasa atas masa depan mereka. Perasaan superior seperti inilah yang memicu hadirnya resistensi alami dari dalam diri anak.

Anak-anak memiliki kepekaan batin yang luar biasa untuk merasakan apakah sebuah kata-kata lahir dari rasa kasih sayang yang tulus atau sekadar ambisi kekuasaan dari orang tuanya. Ketika sahabat MQ berbicara dengan nada menggurui atau menghakimi, batin anak akan otomatis menutup diri dari pesan yang disampaikan. Hasilnya, meskipun materi yang kita berikan adalah sebuah kebenaran mutlak, cara penyampaian yang keliru justru membuatnya terlihat seperti sebuah beban yang memberatkan.

Kesadaran bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang murni berasal dari kehebatan makhluk harus selalu kita tanamkan. Rasulullah saw. mengajarkan sebuah doa agar kita senantiasa dibimbing dalam mengarahkan kecenderungan hati menuju ketaatan:

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ

Artinya: “Wahai Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk senantiasa taat kepada-Mu.” (HR. Muslim). Dengan doa ini, kita mengakui bahwa kelunakan hati anak kita sepenuhnya berada di bawah kendali-Nya.

Pentingnya Keselarasan Ucapan dan Perbuatan

Tantangan terbesar dalam dunia pengasuhan bukanlah pada bagaimana merangkai kata-kata bijak yang mampu memukau pendengaran anak. Tantangan sesungguhnya terletak pada konsistensi kita untuk mempraktikkan isi nasihat tersebut dalam keseharian yang mereka saksikan langsung. Sungguh sebuah ironi yang mendalam jika kita melarang anak-anak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak produktif, namun mereka menyaksikan kita sendiri terus sibuk bergulir dari satu menu hiburan digital ke menu lainnya tanpa henti.

Mata anak adalah kamera perekam yang paling objektif dalam menilai integritas orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Melihat setiap aktivitas kita, baik yang tampak di ruang tamu maupun yang tersembunyi di balik pintu kamar. Ketika terdapat jurang pemisah yang lebar antara tuntutan kita kepada anak dengan kualitas ibadah pribadi kita, maka keberkahan dari kata-kata yang kita ucapkan akan sirna, sehingga tidak memiliki daya sentuh sama sekali bagi batin mereka.

Peringatan keras mengenai ketidakselarasan antara ucapan dan perbuatan ini telah digariskan dengan sangat jelas di dalam Al-Qur’an:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 3). Mari sahabat MQ pastikan agar setiap ajakan kebaikan yang keluar dari lisan kita telah terlebih dahulu mewujud dalam perilaku nyata kita.

Menyerahkan Hasil Akhir Kepada Allah

Tugas mulia seorang pendidik atau orang tua pada hakikatnya hanyalah sebatas menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling baik dan penuh kasih sayang. Kita sama sekali tidak dibebani tanggung jawab untuk memastikan kapan dan bagaimana hasil akhir dari perubahan tersebut akan mewujud. Ketika sahabat MQ terlalu membebani pikiran dengan target hasil yang kaku, yang akan lahir kemudian adalah rasa cemas berlebih dan sikap tidak sabar yang merusak hubungan.

Yakinlah bahwa setiap benih kebaikan yang ditanamkan dengan keikhlasan tidak akan pernah hilang sia-sia dalam pandangan Allah. Boleh jadi perubahan itu tidak nampak hari ini atau esok hari, melainkan di waktu-waktu mendatang melalui jalan dan perantara yang sama sekali tidak pernah kita duga sebelumnya. Tugas kita adalah menikmati proses perjuangan memantaskan diri dan terus mengetuk pintu rahmat-Nya tanpa kenal lelah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan penegasan mengenai batasan kemampuan manusia dalam memberi hidayah melalui firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nyala.” (QS. Al-Qasas: 56). Ayat ini menjadi pelipur lara sekaligus pengingat agar kita selalu bersandar pada kekuasaan Allah.