Kekuatan Tekad dan Niat yang Lurus
Perubahan besar selalu dimulai dari niat yang tulus karena Allah SWT. Ustaz Agus Suhendar mengingatkan agar kita tidak menjadi “Hamba Ramadhan” yang hanya taat di satu bulan saja, melainkan menjadi “Hamba Rabbani” yang taat sepanjang hayat. Tekad yang bulat untuk mempertahankan kebaikan yang telah dilakukan selama puasa adalah modal utama untuk melawan godaan kemalasan yang sering muncul di bulan-bulan berikutnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an (Surat Ali ‘Imran: 8):
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: “(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu…”
Disiplin Diri: Rahasia di Balik Ibadah yang Berkelanjutan
Disiplin adalah kunci. Jika selama Ramadhan kita bisa bangun malam untuk sahur dan shalat, mengapa setelah Ramadhan kita kesulitan? Cobalah untuk menjadwalkan ibadah-ibadah sunnah seperti layaknya jadwal pertemuan penting. Dengan kedisiplinan yang tinggi dan paksaan yang positif pada diri sendiri di awal, lama-kelamaan ibadah tersebut akan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan.
Doa: Senjata Paling Ampuh Seorang Mukmin
Setelah segala ikhtiar dilakukan, senjata terakhir dan yang paling utama adalah doa. Kita harus selalu memohon agar Allah tidak memalingkan hati kita setelah mendapatkan petunjuk. Keistikamahan adalah anugerah dari Allah yang harus terus diminta setiap saat. Dengan kombinasi antara niat, usaha, lingkungan yang baik, dan doa yang tak putus, menjaga kebaikan Ramadhan bukan lagi hal yang mustahil.
Rasulullah bersabda:
اِسْتَقِيْمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ
Artinya: “Beristiqamahlah kalian dan kalian tidak akan mampu menghitung (pahalanya), dan ketahuilah bahwa amalan kalian yang paling utama adalah shalat.” (HR. Ahmad).