syukur

Ujian merupakan tanda kasih sayang atau cinta-Nya Allah terhadap hambanya, jika ingin hidup di dunia tidak sia sia, sepatutnya kita mengetahui apa Hakikatnya ujian bagi seseorang muslim, menghadapinya dengan berhusnuzhan kepada Allah bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, adalah bagian dari takdir yang telah ditentukan oleh Allah dan memiliki hikmah di baliknya.

Dalam Qs. Al-ankabut ayat 2-5

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

a ḫasiban-nâsu ay yutrakû ay yaqûlû âmannâ wa hum lâ yuftanûn

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” (Qs. Al-ankabut:2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

wa laqad fatannalladzîna ming qablihim fa laya‘lamannallâhulladzîna shadaqû walaya‘lamannal-kâdzibîn

“Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.” (Qs. Al-ankabut:3)

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ اَنْ يَّسْبِقُوْنَاۗ سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

am ḫasiballadzîna ya‘malûnas-sayyi’âti ay yasbiqûnâ, sâ’a mâ yaḫkumûn

“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? (Alangkah) buruk apa yang mereka tetapkan itu!” (Qs. Al-ankabut:4)

مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ اللّٰهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ لَاٰتٍۗ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

mang kâna yarjû liqâ’allâhi fa inna ajalallâhi la’ât, wa huwas-samî‘ul-‘alîm

“Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-ankabut:5)

kita yakin Allah mencoba melihat jika seorang hamba diuji dengan nikmat ataupun kesenangan kita kesulitan ataupun kesenangan maka kita masih tetap orang-orang yang jujur kemudian apakah kita tidak mendustai yang apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasulnya kemudian juga kita akan menang karena memang kita ini berharap dengan ujian itu akan ada waktunya kita bertemu dengan Allah, siapa yang berharap bertemu dengan Allah, hadapi segala sesuatu Karena Allah, ketika kita melakukannya dengan sebaik-baiknya karena ingin dinilai oleh Allah, ingin bertemu dengan Allah, meyerahkan diri pada Allah, Allah Maha Mengetahui.

Qs Al-Baqarah ayat 155-156

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ

وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jû‘i wa naqshim minal-amwâli wal-anfusi wats-tsamarât, wa basysyirish-shâbirîn

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

alladzîna idzâ ashâbat-hum mushîbah, qâlû innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).

Allah akan menguji dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan Allah akan memberikan kabar gembira pada orang orang yang sabar, orang yang apabila dapat musibah dia berkata Innalilaahi wa innailaihi raaji’un.

Manfaat Ujian

Ujian untuk meningkatkan keimanan, meningkatkan kualitas kesabaran, ketawakalan, husnuzhan, meningkatkan kualitas pahala, menggugurkan dosa. Peningkatan Derajat, Ujian juga bisa menjadi cara Allah untuk mengangkat derajat seseorang di akhirat, Musibah yang berat akan mendapatkan pahala yang besar. Ujian memberikan pelajaran berharga dan Peningkatan Diri yang mungkin tidak kita dapatkan dalam keadaan yang nyaman. Melalui ujian, kita belajar tentang diri kita sendiri, tentang kekuatan dan kelemahan kita, serta cara menghadapi tantangan dengan bijaksana.

Menghindari Kesombongan dan Ketergantungan pada Dunia: Ujian dapat mengingatkan kita akan sifat fana dari dunia dan menghindari ketergantungan berlebihan pada materi. Ini membantu kita untuk selalu mengingat bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan tidak ada yang bisa kita andalkan selain-Nya.

Karena sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat, sungguh jika Allah mencintai suatu kaum maka dia akan menimpa ujian untuk mereka, Barang siapa yang Ridha ia akan meraih Ridha Allah, barang siapa yang tidak suka maka Allah pun akan murka (HR.Ibnu Majah).

Cara Menghadapi Ujian Hidup dengan Kesabaran dan Ketaatan

Selalu memohon pertolongan Allah, memohon ampun kepada Allah, merendahlah kepada Allah, menghadapinya dengan sabar, mendekatkan diri pada Allah, dengan cara berwudhu, melaksanakan salat, memperbanyak zikir, jaga pergaulan dan jangan begantung kepada selain Allah, tidak israf atau berlebi -lebihan, sedih jangan terlalu berlarut-larut, senangpun jangan berlebihan, kesempatan untuk memperbaiki diri.

Hadist Riwayat Tirmizi kata syekh Albani 2396 jika Allah menginginkan kebaikan pada hambanya akan disegerakan hukumannya di dunia, jika Allah menghendaki kejelekan padanya dia akan melahirkan balasan atas dosa yang dia perbuat akan di tunaikan pada hari kiamat kelak. Penting untuk mengingat bahwa setiap orang mengalami ujian yang berbeda-beda dan cara kita menanggapinya juga berbeda.

Narasumber: Teh Sasa Esa Agustana
Program: Kajian MQ Pagi Spesial Muslimah