frekuensi gempa

Waspada! Frekuensi Gempa di Indonesia Terus Meningkat

MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Sahabat MQ, rentetan gempa yang terjadi belakangan ini tentu perlu menjadi perhatian sekaligus kewaspadaan bersama. Berdasarkan data, pada Senin, 6 Oktober lalu, gempa pertama mengguncang Kolaka Timur dengan magnitudo 2,2 pada kedalaman 7 kilometer. Kemudian di sore harinya, gempa bermagnitudo 5,5 terjadi di barat daya Sinabang, Aceh, sekitar pukul 17.11 WIB, tanpa potensi tsunami. Meski kedua peristiwa tersebut tidak menimbulkan kerusakan, keduanya memperkuat indikasi meningkatnya aktivitas seismik di wilayah Indonesia.

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa aktivitas gempa bumi di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan signifikan tercatat pada tahun 2024. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menjelaskan bahwa Indonesia berada di pertemuan empat lempeng besar dunia, dan dalam beberapa tahun terakhir aktivitas di zona-zona subduksi semakin sering memicu gempa berkekuatan menengah.

Selain peningkatan aktivitas gempa, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa besar akibat megathrust.
Istilah megathrust merujuk pada zona pertemuan dua lempeng tektonik ketika salah satunya menyusup ke bawah lempeng lainnya. Proses ini menyebabkan penumpukan energi besar yang, ketika dilepaskan, dapat memicu gempa kuat bahkan berpotensi menimbulkan tsunami.

Dr. Daryono, selaku Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menyampaikan bahwa berdasarkan catatan, tren kejadian gempa di Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, di antaranya:

  • 1. Tahun 2008 tercatat sekitar 2.400
  • 2. Tahun 2010 meningkat menjadi 4.500
  • 3. Tahun 2012 menjadi 5.100
  • 4. Tahun 2018 naik hingga 9.100
  • 5. Tahun 2021 mencapai 11.000
  • 6. Tahun 2022–2023 sedikit menurun menjadi sekitar 10.800

Peningkatan ini masih menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti, sebab di beberapa tahun tertentu terjadi banyak gempa susulan yang memperbanyak jumlah aktivitas seismik.

Wilayah-wilayah yang menunjukkan peningkatan frekuensi gempa paling signifikan berada di jalur Sumatera bagian barat, Jawa, serta Palu Koro dan Sulawesi Tengah.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, BMKG tengah mengembangkan sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS).
Sistem ini bekerja dengan mendeteksi gelombang primer (P-wave) yang muncul lebih awal, untuk kemudian memberikan informasi tentang kedatangan gelombang sekunder (S-wave) yang dapat menimbulkan guncangan kuat. Tentunya, sistem ini perlu diiringi dengan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat serta perusahaan-perusahaan terkait agar pemanfaatannya optimal.

Sahabat MQ, jika kita ingin benar-benar selamat dari bencana gempa, maka kuncinya adalah memastikan bangunan kita tahan gempa. Struktur bangunan harus kuat dengan tulangan kokoh, ikatan beton yang baik, serta perencanaan konstruksi yang tepat. Selain itu, penting juga untuk melatih para tukang agar memahami prinsip bangunan tahan gempa, sehingga masyarakat tidak asal membangun.

Dengan kesiapsiagaan, pengetahuan, dan kepedulian bersama, semoga kita dapat meminimalkan risiko dan tetap waspada terhadap ancaman gempa bumi di tanah air.

Program : Sudut Pandang – Inspirasi Pagi
Narasumber : Dr. Daryono, S.Si, M.Si
Penyiar : Muhammad Huda – Muhammad Dava