Screenshot 2025-11-21 110934

Waspada Pergerakan Tanah di Kota Bandung

MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Sahabat MQ, dalam beberapa bulan terakhir kewaspadaan terhadap pergerakan tanah di kawasan Bandung Raya terus meningkat. Salah satu kejadian terbaru terjadi di Desa Situwangi, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Sebanyak 30 rumah mengalami kerusakan akibat tanah bergerak, 10 diantaranya rusak berat. Warga pun terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Peristiwa serupa juga terjadi pada 5 November lalu di Kampung Neundeut, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, yang menyebabkan puluhan rumah terdampak. Jika kita melihat kondisi di Kabupaten Bandung Barat secara keseluruhan, tercatat sedikitnya 51 rumah dengan 60 kepala keluarga atau sekitar 208 jiwa mengungsi ke rumah kerabat untuk mencegah risiko yang lebih besar dan menghindari korban jiwa.

Melansir dari Ayo Bandung, Kecamatan Rongga bahkan telah dikategorikan sebagai zona menengah–tinggi potensi gerakan tanah oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Sementara itu, Pemerintah Kota Bandung juga mulai memetakan titik-titik rawan pergerakan tanah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Data ini menunjukkan bahwa saat hujan lebat melanda, kawasan perbukitan dan lembah di Bandung Raya terutama yang memiliki kemiringan curam, lapisan tanah yang rapuh, serta kondisi tanah jenuh air menjadi wilayah yang paling rentan.

Menurut Didi Ruswandi, potensi pergerakan tanah banyak ditemukan di wilayah utara Kota Bandung seperti Sukasari, Cidadap, Ujung Berung, Cibiru, dan Cibeunying. Kejadian biasanya meningkat setelah puncak musim hujan karena kondisi air tanah yang sudah jenuh. Selama 2025 hingga 5 November, tercatat sudah ada 49 kejadian pergerakan tanah di Kota Bandung, didominasi oleh longsor. Puncaknya terjadi pada Mei dengan 16 kejadian, disusul Oktober dengan 6 kejadian.

Untuk meminimalkan risiko di daerah rawan, BPBD melakukan sejumlah langkah konkret, di antaranya:

  1. Mengimbau masyarakat melakukan mitigasi mandiri, termasuk menempatkan barang berharga di lokasi yang aman.
  2. Mengeluarkan peringatan dari Wali Kota agar warga di zona rawan melakukan relokasi mandiri.
  3. Berkoordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang untuk mengatur kebijakan pembangunan di kawasan rawan longsor dan pergerakan tanah.

Sahabat MQ, kewaspadaan terhadap pergerakan tanah di Kota Bandung juga menjadi pengingat bagi kita untuk selalu memiliki tas siaga bencana. Tas ini berisi barang-barang penting yang bisa langsung dibawa ketika situasi darurat terjadi. Kesiapsiagaan bukan dimulai saat bencana datang, tetapi justru jauh sebelumnya. Karena ketika musibah terjadi, kepanikan sering menghambat kemampuan kita untuk berpikir jernih.

Oleh sebab itu, penting untuk memiliki rencana evakuasi, memahami jalur penyelamatan, serta mengikuti latihan mitigasi baik di tingkat komunitas maupun yang diselenggarakan pemerintah daerah. Dengan kesiapsiagaan yang baik, risiko dapat diminimalkan dan keselamatan dapat lebih terjaga.

Program : Sudut Pandang – Inspirasi Pagi
Narasumber : Didi Ruswandi  
Penyiar : Muhammad Huda – Syifa Khoirun Nisa