sujud

Menemukan Kasih Sayang Allah di Balik Lemahnya Kondisi Fisik

Ketika tubuh mendadak lunglai akibat didera penyakit, atau ketika rencana hidup berantakan karena musibah, rasa kecewa sering kali menyergap jiwa. Sangat manusiawi jika ada perasaan sedih yang muncul, namun jangan sampai hal tersebut membuat kita berburuk sangka kepada takdir. Berdasarkan penjelasan Bapak Iip Saripudin, S.H., MM., seorang konselor dari Puspaga Kota Bandung dalam program “Inspirasi Keluarga – Keluarga Bahagia” di MQFM, rasa sakit atau musibah yang dialami seorang hamba sejatinya bisa menjadi bentuk perhatian dan kasih sayang khusus dari Sang Khalik agar manusia kembali mengingat-Nya.

Melalui kondisi fisik yang melemah, manusia diingatkan kembali akan hakikat dirinya yang rapuh dan selalu membutuhkan pertolongan dari Zat yang Mahakuasa. Sahabat MQ, momen terbaring di tempat tidur bisa diubah menjadi ruang kontemplasi yang sangat sunyi, syahdu, dan penuh makna. Di saat seperti inilah untaian doa serta zikir yang terucap biasanya terasa jauh lebih khusyuk, jujur, dan mampu menyentuh relung kalbu yang paling dalam.

Ketentuan mengenai cinta Allah yang diwujudkan melalui ujian berupa cobaan hidup atau penyakit ini disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menimpakan musibah (ujian) kepadanya.”

Mengikis Kesombongan Jiwa Melalui Ujian Kekurangan Duniawi

Kesehatan yang prima dan kelancaran urusan keduniawian terkadang tanpa sadar membuat manusia terlena dan memupuk rasa bangga diri yang berlebihan. Musibah atau sakit hadir sebagai penyeimbang spiritual untuk meruntuhkan dinding kesombongan yang perlahan terbangun di dalam hati manusia. Menyadari bahwa harta, jabatan, dan kekuatan fisik tidak mampu menolak rasa sakit akan mendatangkan sifat tawaduk yang mendalam di hadapan Allah.

Dalam lingkup domestik, hadirnya anggota keluarga yang sedang sakit sebetulnya menjadi ladang amal salih bagi anggota keluarga lainnya untuk saling berbakti. Sahabat MQ, ketulusan dalam merawat pasangan atau anak yang sedang sakit akan mempererat jalinan kasih sayang serta memicu datangnya keberkahan di dalam rumah. Pengorbanan yang dilakukan di masa-masa sulit ini memiliki nilai emosional yang jauh lebih berharga daripada hadiah materi apa pun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sengaja menguji hamba-Nya dengan berbagai macam kekurangan ego keduniawian untuk melihat siapa yang terbaik kualitas iman dan kesabarannya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Mengubah Energi Keluhan Menjadi Doa yang Menembus Langit

Reaksi spontan berupa keluhan yang terus-menerus saat menghadapi situasi sulit hanya akan menguras energi psikologis tanpa memberikan solusi nyata. Mengubah energi keluhan tersebut menjadi untaian permohonan yang tulus dan pasrah di atas sajadah adalah langkah yang jauh lebih produktif bagi kesehatan jiwa. Setiap bulir air mata yang jatuh karena kepasrahan penuh kepada-Nya akan digantikan dengan ketenangan serta kelapangan dada.

Sahabat MQ, keyakinan bahwa setiap penyakit ada obatnya dan setiap masalah keluarga ada jalan keluarnya harus terus dipelihara di dalam dada. Sikap optimis yang bersandar pada agama ini tidak hanya berdampak baik bagi kesehatan mental, tetapi juga dapat membantu mempercepat proses pemulihan fisik. Berprasangka baik kepada setiap ketetapan Allah merupakan modal utama yang paling kuat untuk bangkit dari segala bentuk keterpurukan.

Sikap seorang mukmin sejati ketika ditimpa kemalangan atau musibah adalah segera mengembalikan segala urusan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala firman memuji karakteristik hamba-Nya yang sabar:

الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 156).