Membongkar Kekeliruan Sudut Pandang Materialistis
Banyak manusia yang menghabiskan seluruh sisa umur dan energinya hanya untuk mengejar fatamorgana duniawi tanpa pernah merasa puas dengan apa yang telah diraih. Sahabat MQ perlu merenungkan kembali, mengapa semakin keras dunia ini dikejar, justru rasa lelah dan kesengsaraan batin yang semakin sering menyapa jiwa. Kekeliruan utama terletak pada cara pandang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, padahal ia hanyalah tempat persinggahan sementara yang penuh dengan tipu daya. Ketika orientasi hidup hanya berkisar pada untung-rugi materi, maka manusia akan mudah merasa stres saat menghadapi kegagalan atau kehilangan.
Kesibukan yang terlalu berlebihan dalam mengumpulkan kemewahan duniawi sering kali membuat seseorang melupakan persiapan penting untuk menghadapi hari perhitungan di akhirat. Mereka merasa seolah-olah waktu yang dimiliki di dunia ini akan berlangsung selamanya, sehingga menunda-nunda amalan saleh yang seharusnya menjadi prioritas utama. Sahabat MQ yang bijak tentu menyadari bahwa segala bentuk fasilitas duniawi yang ada di tangan sebetulnya hanyalah alat atau bekal untuk mengumpulkan pahala. Menjadikan dunia sebagai pembantu bagi urusan akhirat merupakan seni kehidupan yang akan menyelamatkan manusia dari rasa frustrasi yang berkepanjangan.
Peringatan yang sangat menyentuh hati mengenai sifat asli dari kesenangan duniawi yang menipu ini telah digambarkan dengan jelas di dalam kitab suci.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Ali ‘Imran: 185). Kesadaran akan ayat ini merupakan langkah awal untuk meredam ambisi yang berlebihan.
Mengalihkan Orientasi Menuju Keuntungan Akhirat
Hijrah yang sangat cerdas dan membawa dampak besar dalam kehidupan seorang mukmin adalah mengalihkan fokus utama dari keuntungan duniawi menuju keuntungan ukhrawi. Sahabat MQ yang memiliki orientasi akhirat akan mendapati bahwa cara mereka bekerja dan berdagang akan berubah menjadi sangat profesional dan bersih dari kecurangan. Mereka tidak lagi mudah goyah oleh hinaan manusia atau merasa rugi ketika hak-hak duniawinya diambil secara tidak adil oleh orang lain. Setiap aktivitas harian, sekecil apa pun itu, selalu ditarik benang merahnya agar bernilai pahala dan menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah.
Ketika akhirat sudah dijadikan sebagai cita-cita tertinggi, maka dunia secara otomatis akan datang menghampiri dalam keadaan menunduk dan mudah dikelola. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanamkan rasa kecukupan di dalam hati hamba-Nya, sehingga mereka bisa hidup dengan penuh rasa qanaah dan ketenangan. Sahabat MQ tidak akan lagi terjebak dalam kompetisi pamer kemewahan yang melelahkan fisik dan mental, melainkan fokus pada kompetisi memperbanyak amal saleh. Pergeseran paradigma ini merupakan kunci utama untuk meraih kemerdekaan jiwa yang sejati dari perbudakan materi.
Dampak psikologis yang luar biasa dari perbedaan fokus orientasi hidup antara dunia dan akhirat ini telah dirangkum dengan indah dalam sabda Rasulullah.
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Artinya: Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. (HR. Tirmidzi). Kelapangan inilah yang dicari oleh setiap jiwa.
Menemukan Definisi Sukses yang Hakiki
Dalam kacamata keimanan, definisi kesuksesan sejati sama sekali tidak ada kaitannya dengan tingginya jabatan struktural atau luasnya tanah yang dimiliki seseorang. Sukses yang hakiki adalah ketika seorang hamba berhasil melewati ujian kehidupan dunia dengan selamat dan terhindar dari jilatan api neraka serta diizinkan memasuki surga. Sahabat MQ dapat merenungkan betapa ruginya orang-orang yang mengorbankan prinsip-prinsip kejujuran demi mengejar keuntungan sesaat yang akan ditinggalkan saat mati. Investasi terbaik yang tidak akan pernah mengalami kebangkrutan adalah investasi iman dan amal saleh yang pahalanya terus mengalir tanpa putus.
Untuk membangun mentalitas yang berorientasi akhirat ini, aktivitas merenungi kematian dan kedahsyatan hari kiamat perlu dijadikan sebagai agenda harian. Kesadaran bahwa setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban akan menjadi rem otomatis yang menahan diri dari perbuatan maksiat. Sahabat MQ akan dituntun untuk menjadi pribadi yang lebih gemar memaafkan, mudah berbagi, serta selalu mengedepankan kepentingan penegakan agama Allah di atas kepentingan pribadi. Kehidupan yang dilandasi oleh semangat ukhrawi ini akan melahirkan kedamaian batin yang tidak dapat digoyahkan oleh badai ujian apa pun.
Tuntunan operasional mengenai bagaimana seharusnya manusia membagi fokus antara pencarian bekal akhirat dan pemenuhan kebutuhan dunia telah termaktub dalam ayat berikut.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. Al-Qashash: 77). Keseimbangan yang dipimpin oleh visi akhirat inilah yang mendatangkan kejayaan.