Mengubah Sudut Pandang dalam Melihat Setiap Ujian
Setiap manusia yang hidup di dunia ini dipastikan tidak akan pernah lepas dari yang namanya ujian dan persoalan. Perbedaannya terletak pada bagaimana cara masing-masing individu memandang dan merespons persoalan yang datang bertubi-tubi tersebut. Orang yang berpikiran sempit akan melihat masalah sebagai hukuman, sedangkan orang yang beriman akan melihatnya sebagai wujud kasih sayang Allah Swt. untuk menaikkan derajat mereka.
Sahabat MQ yang selalu merindukan rida-Nya, mengubah sudut pandang ini adalah langkah awal yang sangat krusial. Dalam Kajian MQ Pagi, disampaikan bahwa ujian hidup sejatinya adalah alat penyaring untuk memisahkan antara emas dan kerikil. Dengan menyadari bahwa setiap kesulitan menyembunyikan hikmah yang besar, hati akan menjadi lebih lapang dan ikhlas dalam menerima ketentuan. Masalah tidak lagi menjadi beban yang menghimpit, melainkan tangga menuju kematangan spiritual.
Allah Swt. memberikan jaminan yang sangat menenangkan di dalam Al-Qur’an bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Senjata Ampuh Bernama Tawakal Setelah Ikhtiar Maksimal
Setelah melakukan berbagai upaya dan ikhtiar lahiriah secara maksimal untuk menyelesaikan masalah, langkah selanjutnya yang tidak boleh ditinggalkan adalah tawakal. Tawakal berarti menyerahkan segala hasil akhir sepenuhnya kepada kebijaksanaan Allah Swt. Sifat ini akan melahirkan kedamaian batin karena kita sadar bahwa kita bersandar pada Zat yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur segala urusan. Tanpa tawakal, ikhtiar manusia hanya akan membuahkan kelelahan ego yang rapuh.
KH. Abdullah Gymnastiar dalam Kajian MQ Pagi sering menekankan bahwa tawakal bukan berarti berdiam diri tanpa usaha. Tawakal yang benar adalah bertemunya kerja keras raga di bumi dengan kepasrahan hati yang total ke langit. Sahabat MQ, ketika kita sudah bertawakal dengan sebenar-benarnya, maka rasa takut akan kegagalan akan sirna dengan sendirinya. Kita akan meyakini bahwa apa pun pilihan Allah Swt. untuk kita, itulah yang terbaik.
Allah Swt. menjanjikan kecukupan bagi siapa saja yang mau menyandarkan hidup dan permasalahannya hanya kepada-Nya.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.” (QS. At-Talaq: 3).
Meneladani Kesabaran Para Nabi dalam Menghadapi Badai Kehidupan
Sejarah mencatat bahwa manusia yang paling berat ujian hidupnya bukanlah orang-orang biasa, melainkan para nabi dan rasul. Kisah Nabi Ayub as. yang sakit bertahun-tahun atau Nabi Yunus as. yang terperangkap di dalam perut ikan adalah contoh nyata keteguhan iman. Mereka tidak pernah memprotes ketetapan Allah Swt., melainkan justru semakin memperbanyak zikir dan doa kemuliaan. Meneladani kisah mereka akan membuat masalah yang kita hadapi saat ini terasa sangat kecil.
Melalui siraman rohani di Kajian MQ Pagi, Sahabat MQ diajak untuk merenungkan kembali esensi dari sebuah kesabaran yang indah. Saat badai kehidupan menerpa, jadikanlah salat dan sabar sebagai penolong utama yang akan menuntun langkah kita keluar dari kegelapan. Jangan biarkan lisan mengeluh, melainkan biarkan ia basah dengan pujian kepada-Nya. Dengan demikian, setiap air mata yang jatuh karena menahan kesabaran akan dikonversi menjadi aliran pahala tanpa batas.
Rasulullah saw. menjelaskan tingkat ujian manusia yang paling tinggi dalam sebuah hadis yang patut kita renungkan bersama.
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang sesudah mereka (yang saleh), lalu orang-orang yang sesudah mereka.” (HR. Tirmidzi).