Pentingnya Menjaga Makanan dan Harta dari yang Haram
Banyak di antara kita yang sering mengeluh karena merasa doa-doa yang dipanjatkan siang dan malam tidak kunjung dikabulkan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam benak, meragukan mengapa pertolongan Allah Swt. terasa begitu lambat datang. Padahal, sebelum mempertanyakan hal tersebut, sudah saatnya kita melihat kembali apa yang masuk ke dalam perut kita. Makanan, minuman, dan pakaian yang bersumber dari harta yang haram menjadi hijab paling tebal tersumbatnya doa.
Dalam ulasan Kajian MQ Pagi, Prof. Dr. KH. Miftah Faridh menekankan pentingnya aspek kehalalan dalam kehidupan seorang muslim. Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar, seperti korupsi, manipulasi, atau riba, akan membawa dampak buruk bagi spiritualitas. Sahabat MQ, sekecil apa pun zat haram yang melekat pada tubuh kita, ia memiliki kekuatan untuk menolak aliran berkah dan ijabah dari langit. Oleh karena itu, ketelitian dalam menjemput rezeki adalah hal yang mutlak.
Hal ini sejalan dengan peringatan keras yang disampaikan oleh Rasulullah saw. mengenai seorang lelaki yang berdoa namun tidak dikabulkan karena keharamannya.
ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Beliau menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!’ Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim).
Sikap Tergesa-gesa yang Merusak Estetika Berdoa
Faktor lain yang membuat doa terhambat adalah sifat tergesa-gesa dan keputusasaan yang timbul ketika keinginan tidak langsung terwujud. Sering kali manusia merasa bahwa Allah Swt. tidak mendengar doanya, lalu memilih untuk berhenti meminta dan menjauh dari sajadah. Sikap seperti ini menunjukkan kurangnya adab dan husnuzan (berprasangka baik) kepada ketetapan Sang Pencipta yang Maha Mengetahui waktu terbaik.
Sahabat MQ yang setia mengikuti Kajian MQ Pagi tentu memahami bahwa doa adalah ibadah yang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Allah Swt. tidak pernah mengecewakan hamba-Nya, melainkan menunda atau menggantinya dengan yang lebih baik sesuai kebutuhan sejati kita. Menghentikan doa hanya karena merasa tidak dikabulkan adalah sebuah kerugian besar bagi seorang hamba. Mari kita perbaiki cara kita meminta dengan penuh kerendahan hati dan keyakinan yang bulat.
Rasulullah saw. mengingatkan kita semua agar tidak terjebak dalam sikap tergesa-gesa yang merugikan ini.
يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Akan dikabulkan doa seseorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, ‘Aku telah berdoa, namun tidak kunjung dikabulkan untukku’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mengikis Sifat Lalai dan Menghadirkan Hati saat Meminta
Berdoa bukan sekadar komat-kamit lisan yang melafalkan kalimat-kalimat hafalan tanpa ada keterikatan emosional dan spiritual di dalamnya. Banyak orang yang berdoa dengan tubuh yang menghadap kiblat, namun pikiran dan hatinya melayang memikirkan urusan duniawi atau pekerjaan. Doa yang dipanjatkan dari hati yang lalai dan tidak fokus seperti ini akan kehilangan ruh dan kekuatannya untuk menembus langit.
Sahabat MQ, mari kita biasakan untuk menghadirkan hati, rasa butuh yang teramat sangat, dan pengagungan kepada Allah Swt. saat berdoa. Menangislah di hadapan-Nya, akui segala kelemahan, dan mintalah dengan penuh harap serta cemas. Melalui bimbingan para ulama di Kajian MQ Pagi, kita diajak untuk mencontoh bagaimana para nabi berdoa dengan penuh kekhusyukan. Hanya dengan kedekatan hati seperti inilah, untaian doa akan menjadi kekuatan yang mengubah takdir.
Allah Swt. berfirman mengenai sifat para nabi-Nya yang selalu khusyuk dan bersegera dalam kebaikan serta doa.
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).