Akar Penyakit Mudah Tersinggung dalam Kehidupan Sehari-hari
Menjadi pribadi yang sensitif dan mudah tersinggung atau baperan merupakan salah satu penghambat utama kebahagiaan hidup. Sahabat MQ, sifat ini biasanya muncul karena adanya ego yang terlalu besar di dalam hati, sehingga merasa diri ini harus selalu diperlakukan secara istimewa oleh semua orang. Ketika realitas sosial tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, rasa sakit hati akan segera mendominasi pikiran.
Pikiran yang terus-menerus mengulas perkataan negatif orang lain akan mengubah hari-hari menjadi penuh dengan kecemasan dan prasangka buruk. Waktu yang berharga terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan motif di balik ucapan seorang teman atau rekan kerja. Padahal, ketenangan hati adalah modal utama untuk dapat beraktivitas dan beribadah dengan khusyuk.
Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa ketenangan hati yang hakiki hanya dapat diperoleh ketika fokus kehidupan dialihkan sepenuhnya untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Mengikis Sifat Sombong Melalui Penerimaan Masukan
Sahabat MQ, adakalanya kata-kata yang dirasa menyakitkan dari orang lain sebenarnya adalah sebuah kebenaran yang dikemas dalam bentuk yang kurang sempurna. Sifat sombong yang tersembunyi sering kali menolak masukan tersebut hanya karena merasa diri lebih tahu atau lebih senior. Menolak kebenaran merupakan tanda bahwa hati sedang terjangkit penyakit spiritual yang kronis.
Belajar menerima realitas bahwa diri ini adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan akan membantu meruntuhkan tembok kesombongan. Setiap kritikan, sekasar apa pun penyampaiannya, dapat dijadikan sebagai cermin gratis untuk mengevaluasi kekurangan diri yang selama ini tidak terlihat. Dengan sudut pandang ini, tidak ada lagi ruang untuk merasa sakit hati.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan definisi yang sangat jelas mengenai esensi dari kesombongan agar setiap muslim dapat mengantisipasinya:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).
Meneladani Kelapangan Hati Para Kekasih Allah
Sahabat MQ, sejarah kehidupan para nabi dan ulama saleh penuh dengan teladan tentang bagaimana mengelola ego di hadapan cercaan makhluk. Mereka tidak pernah merasa terhina ketika dihina, karena mereka tahu bahwa kemuliaan sejati hanya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Fokus mereka adalah menyelamatkan umat, bukan mempertahankan harga diri pribadi.
Memiliki kelapangan hati seperti samudera yang mampu menampung segala jenis limbah tanpa menjadi kotor adalah cita-cita spiritual yang tinggi. Setiap kali ada perkataan yang kurang menyenangkan, respons yang keluar adalah untaian doa kebaikan dan permohonan ampunan untuk pelaku. Inilah tingkat akhlak tertinggi yang akan membawa kedamaian abadi di dunia dan akhirat.
Karakteristik mulia ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkan untuk membalas keburukan dengan cara yang jauh lebih baik:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya: “Balaslah (keburukan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34).