Hubungan Erat Antara Ilmu Agama dan Kualitas Tauhid
Sahabat MQ, keimanan di dalam dada bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan ia dapat bertambah kuat atau justru melemah seiring berjalannya waktu. Kekuatan iman seorang hamba sangat bergantung pada seberapa jauh ia mengenal penciptanya melalui pemahaman ilmu agama yang mendalam. Mustahil bagi seseorang untuk memilik tauhid yang kokoh jika ia enggan meluangkan waktu untuk belajar.
Tanpa landasan ilmu yang benar, seseorang akan dengan mudah terombang-ambing oleh badai ujian kehidupan dan godaan duniawi. Ia akan dengan mudah mencari perlindungan kepada selain Allah saat menghadapi kesulitan ekonomi atau masalah keluarga. Oleh karena itu, menuntut ilmu syar’i adalah kebutuhan rohani yang paling mendasar dan tidak boleh diabaikan.
Setiap pagi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu mencontohkan doa memohon ilmu yang bermanfaat sebagai modal utama menjalani hari sebelum memohon rezeki:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah).
Bahaya Menjadikan Dunia Sebagai Tuhan-Tuhan Baru
Ketika hati kosong dari nilai-nilai keimanan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah, manusia cenderung mencari tuhan-tuhan lain untuk disembah secara tidak sadar. Sahabat MQ, materi, gelar akademik, pangkat jabatan, hingga pujian dari sesama sering kali bergeser fungsi menjadi sesuatu yang paling ditakuti dan dikejar melebihi Allah. Perbudakan modern oleh dunia ini adalah sumber dari segala penderitaan batin.
Orang yang menuhankan harta akan merasa dunianya kiamat ketika mengalami kerugian finansial yang kecil, karena ia menggantungkan rasa amannya pada angka-angka di rekening. Hidupnya akan dihabiskan dalam lingkaran kecemasan yang tiada berujung demi mengejar kepuasan yang semu. Mengembalikan Allah sebagai satu-satunya pusat ketergantungan adalah kunci kemerdekaan jiwa yang hakiki.
Peringatan mengenai tipu daya kehidupan duniawi yang melalaikan ini telah digambarkan secara gamblang di dalam kitab suci Al-Qur’an:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).
Istikamah dalam Mujahadah Mengamalkan Ilmu
Mendapatkan ilmu agama yang luas barulah merupakan langkah awal dari sebuah perjalanan panjang spiritual. Sahabat MQ, pembuktian sejati dari kekuatan iman adalah sejauh mana diri ini berjuang dengan sungguh-sungguh atau bermujahadah untuk mempraktikkan ilmu tersebut dalam perilaku nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya pascamenerima nasihat kebaikan.
Sebagai contoh nyata, setelah mengetahui teori tentang keutamaan menjaga lisan, ujian sesungguhnya adalah saat mampu menahan diri untuk tidak ikut bergosip dalam sebuah perkumpulan. Konsistensi dalam mengamalkan hal-hal kecil inilah yang akan mengundang pertolongan Allah untuk semakin mengokohkan keimanan di dalam hati. Iman yang kuat adalah hadiah dari Allah atas keseriusan hamba-Nya dalam berproses.
Janji Allah untuk memberikan petunjuk dan keteguhan bagi mereka yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya adalah sebuah kepastian yang mutlak:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69).