Bahaya Tersembunyi dari Sikap Merasa Bisa
Pernahkah terbersit di dalam benak mengapa upaya menasihati anggota keluarga sering kali berujung pada perdebatan yang melelahkan? Fenomena ini sering kali terjadi karena adanya sebuah jebakan halus yang bernama rasa mampu di dalam dada kita. Sebagai orang tua atau pasangan, adakalanya kita merasa bahwa dengan kecerdasan, pengalaman, dan kedudukan yang dimiliki, kita pasti bisa mengarahkan watak seseorang sesuai dengan kemauan kita. Sikap merasa bisa inilah yang tanpa disadari justru menjauhkan pertolongan Allah dari ikhtiar yang sedang dilakukan.
Ketika sikap merasa mampu ini mendominasi, keikhlasan dalam berbuat perlahan-lahan akan terkikis dan digantikan oleh ego yang tinggi. Sahabat MQ mungkin menjadi sangat tidak sabar saat melihat proses perubahan berjalan lambat, lalu dengan mudah meluapkan kekesalan dalam bentuk amarah. Padahal, kepatuhan yang lahir dari rasa takut terhadap amarah manusia bersifat semu dan tidak akan bertahan lama, karena fondasi utamanya bukanlah kesadaran batin yang tulus.
Untuk itu, mari kita renungkan kembali pesan berharga yang diajarkan oleh Rasulullah saw. melalui doa yang sangat sering beliau panjatkan guna menjaga ketetapan iman. Beliau bersabda dalam sebuah riwayat:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa jangankan hati orang lain, hati kita sendiri pun senantiasa membutuhkan perlindungan dan ketetapan dari Allah agar tidak melenceng.
Koreksi Diri sebagai Kunci Utama Hidayah
Saat menghadapi kenyataan bahwa anak atau pasangan belum menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, langkah bijak pertama yang perlu diambil bukanlah menghujani mereka dengan kritik. Langkah yang paling tepat adalah menundukkan kepala dan melakukan introspeksi mendalam terhadap kualitas diri kita sendiri terlebih dahulu. Boleh jadi, hambatan yang membuat nasihat kita mental dan tidak membekas adalah karena adanya tumpukan dosa pribadi yang belum sempat kita tobati secara sungguh-sungguh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa Maha Menyaksikan segala sesuatu, termasuk ketidakselarasan antara apa yang kita ucapkan di depan orang lain dengan apa yang kita lakukan saat berada dalam kesunyian. Sungguh sebuah kekeliruan besar jika kita menuntut anak-anak untuk rajin beribadah dan menjauhi hal sia-sia, sementara mereka melihat kita sendiri masih sibuk menghabiskan waktu dengan gawai tanpa manfaat. Teladan nyata jauh lebih lantang bersuara daripada ribuan untaian kata nasihat yang tidak diamalkan.
Oleh karena itu, prinsip utama dalam menjaga keharmonisan dan kesalehan keluarga adalah memprioritaskan perbaikan kualitas pribadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini secara tegas dalam kitab suci-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِكُمْ نَارًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Perintah untuk menjaga diri sendiri ditempatkan sebelum perintah menjaga keluarga, mengisyaratkan bahwa kesalehan seorang pemimpin adalah modal utama.
Kekuatan Air Mata Tobat Orang Tua
Ketika segala metode komunikasi dan pendekatan duniawi dirasa menemui jalan buntu, ketahuilah bahwa pintu langit selalu terbuka lebar bagi hamba-Nya yang bersimpuh pasrah. Air mata yang tumpah dalam sujud malam karena penyesalan atas dosa-dosa masa lalu memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat untuk menggerakkan hati seseorang daripada bentakan atau omelan sehari-hari. Tobat yang tulus akan melayakkan kita di hadapan Allah untuk menerima hadiah berupa kelembutan hati dari orang-orang yang kita cintai.
Sahabat MQ perlu meyakini bahwa setiap musibah atau kesulitan hidup, termasuk ujian berupa perilaku anak yang membangkang, bisa jadi merupakan cara Allah untuk menegur kelalaian kita. Dengan mengubah rasa jengkel menjadi untaian doa ampunan, kita sedang menarik rahmat Allah agar segera turun memberesi kekusutan urusan domestik kita. Berhentilah mengeluhkan sikap mereka dan mulailah memperbanyak istigfar atas segala kekurangan diri kita selama ini.
Janji Allah akan jalan keluar bagi mereka yang mau bertobat dan bertakwa adalah sesuatu yang pasti. Di dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3). Jalan keluar dari problem keluarga sering kali berawal dari ketakwaan yang baru kita bangun kembali.