keluarga

Memulai Perubahan dari Diri Sendiri Demi Keharmonisan Bersama

Menunggu pasangan untuk sadar dan berubah terlebih dahulu sering kali hanya akan berujung pada kekecewaan yang mendalam dan memperpanjang konflik. Berdasarkan pemaparan Ibu Hj. Ruli Kurnia Dwicahyani, seorang konselor dari Puspaga Kota Bandung dalam program “Inspirasi Pagi – Dialog Umat” di MQFM, komunikasi yang sehat tidak harus menunggu pihak lain memulai. Jika salah satu pihak, misalnya istri, menyadari adanya kerenggangan, langkah terbaik adalah memulai perbaikan dari dalam diri sendiri terlebih dahulu.

Mengambil inisiatif untuk memperbaiki sikap, tutur kata, dan pelayanan di dalam rumah merupakan bentuk kedewasaan emosional yang sangat mulia. Sahabat MQ, langkah ini bukanlah tanda kekalahan, melainkan sebuah strategi cerdas untuk menyentuh hati pasangan secara perlahan tanpa unsur paksaan. Ketika energi positif mulai dialirkan ke dalam rumah, suasana psikologis keluarga pun lambat laun akan ikut berubah menjadi lebih hangat.

Prinsip mendahului dalam berbuat kebaikan dan membalas sikap dengan kebaikan merupakan anjuran agung di dalam syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai indahnya membalas sikap dengan kebaikan:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara dirimu dan dia akan seperti teman setia.” (QS. Fussilat: 34).

Kekuatan Doa dan Bakti Terbaik Seorang Istri di Dalam Rumah

Memberikan bakti terbaik kepada suami tanpa disertai tuntutan yang berlebihan merupakan salah satu kunci pembuka pintu berkah di dalam rumah tangga. Ketika seorang istri menjalankan perannya dengan penuh keikhlasan, tindakan tersebut sebetulnya sedang mengetuk pintu rahmat dari Sang Pemilik Hati. Fokus pada kewajiban diri sendiri jauh lebih menenangkan jiwa daripada sibuk menghitung-hitung kekurangan yang ada pada diri pasangan.

Selain ikhtiar lahiriah berupa pelayanan yang santun, senjata paling ampuh yang dimiliki oleh seorang mukmin adalah untaian doa di sepertiga malam. Sahabat MQ, selipkan selalu nama pasangan dalam doa-doa yang dipanjatkan agar hatinya senantiasa dilembutkan dan dibimbing menuju kebaikan. Ketulusan doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan memiliki kekuatan luar biasa yang mampu menembus langit.

Pahala bagi seorang wanita yang taat dan memberikan bakti terbaiknya kepada suami dijamin dengan balasan yang sangat istimewa di akhirat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira ini melalui sabda beliau:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَت| شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki’.” (HR. Ahmad).

Menghindari Tuntutan Ego yang Dapat Merusak Ikatan Pernikahan

Sikap sering menuntut dan menyalahkan pasangan secara terus-menerus terbukti menjadi salah satu faktor utama yang membuat komunikasi menjadi buntu. Ketika salah satu pihak merasa selalu disudutkan, respons alami yang akan muncul adalah membangun benteng pertahanan diri berupa penolakan atau kemarahan. Oleh karena itu, mengubah pola komunikasi dari yang tadinya mendikte menjadi saling menawarkan bantuan adalah langkah yang bijaksana.

Sahabat MQ, cobalah untuk mengurangi ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan hidup karena tidak ada manusia yang tercipta dengan kesempurnaan mutlak. Menerima kekurangan pasangan dengan lapang dada sembari terus memberikan contoh kebaikan secara konsisten akan membuat hubungan menjadi lebih rileks. Kedamaian rumah tangga akan terwujud saat masing-masing pihak lebih fokus untuk memberi daripada menuntut untuk menerima.

Kebaikan akhlak dan kelembutan dalam bersikap merupakan perhiasan terbaik yang dapat mempercantik hubungan antarmanusia, khususnya suami istri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan pentingnya kelembutan ini di dalam sebuah hadis sahih:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنZَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan ia akan memperburuknya.” (HR. Muslim).