Pesona yang Melalaikan dari Ibadah Ke Masjid
Sahabat MQ Pernikahan pertama Atikah binti Zaid bersama Abdullah bin Abu Bakar diwarnai oleh jalinan cinta yang sangat kuat dan mendalam di antara keduanya. Atikah, yang memiliki kombinasi sempurna antara kecantikan fisik, kecerdasan pikiran, dan kelembutan sikap, berhasil memikat hati sang suami sepenuhnya. Namun, kebahagiaan rumah tangga yang begitu intim ini perlahan-lahan memicu sebuah dampak yang kurang baik bagi kehidupan spiritual Abdullah.
Saking betah dan bahagianya berada di rumah bersama Atikah, Abdullah mulai sering menunda-nunda waktu untuk pergi beribadah ke Masjid Nabawi. Kehadiran sang istri tercinta seolah menjadi pusat perhatian utama yang mengalihkan fokus Abdullah dari kewajiban berjamaah dan aktivitas jihad. Fenomena ini memicu kekhawatiran yang mendalam dari sang ayah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang melihat adanya penurunan semangat spiritual pada diri putranya akibat terlena oleh kesenangan duniawi.
Melihat penurunan kualitas ibadah tersebut, Abu Bakar mengambil tindakan tegas dengan memerintahkan Abdullah untuk menceraikan Atikah demi menyelamatkan agamanya. Kisah ini menjadi peringatan penting bagi sahabat MQ agar selalu menjaga keseimbangan antara cinta kepada makhluk dan cinta kepada Sang Pencipta. Ujian berupa kelalaian akibat pasangan atau harta benda telah diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah At-Taghabun ayat 14:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ
Artinya: “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”
Prahara Perceraian dan Kerinduan yang Menyiksa
Meskipun diliputi rasa berat hati yang teramat sangat, Abdullah bin Abu Bakar akhirnya memilih untuk menaati perintah ayahnya dan menjatuhkan talak kepada Atikah. Keputusan perceraian tersebut seketika mengubah suasana kehidupan kedua insan ini menjadi penuh dengan mendung kesedihan. Baik Abdullah maupun Atikah mengalami guncangan batin yang luar biasa karena harus berpisah dalam kondisi masih saling mencintai dengan sangat dalam.
Hari-hari pasca-perceraian dilalui oleh Abdullah dengan penuh penyesalan dan ruang hampa di dalam hatinya yang sulit untuk terobati. Beliau sering kali terlihat merenung sendirian sembari melantunkan bait-bait puisi penyesalan yang menggambarkan betapa bodohnya diri yang telah melepaskan wanita sesaleh Atikah. Kerinduan yang mendalam di antara mantan pasangan suami istri ini menjadi begitu mencolok hingga menarik simpati dari lingkungan sosial di sekitar mereka.
Melihat kondisi putranya yang tampak kehilangan semangat hidup dan terus didera kesedihan, Abu Bakar Ash-Shiddiq akhirnya merasa luluh. Beliau menyadari bahwa cinta keduanya sangat tulus dan tidak bermaksud untuk melanggar batas syariat, sehingga beliau mengizinkan Abdullah untuk merujuk kembali Atikah sebelum masa idahnya berakhir. Pelajaran tentang pentingnya menjaga perasaan dalam ikatan pernikahan tercermin dari hadis Rasulullah mengenai keharusan berbuat baik kepada wanita yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
Artinya: “Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita.”
Akhir Indah di Medan Juang Kota Thaif
Setelah kembali bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah, Abdullah dan Atikah berkomitmen untuk saling mendukung dalam meningkatkan kualitas ketakwaan mereka. Atikah dengan kecerdasannya bertindak sebagai pengingat bagi sang suami agar tidak lagi melalaikan panggilan ibadah dan perjuangan membela Islam. Transformasi positif ini membuktikan bahwa cinta yang sejati seharusnya menjadi motivator utama untuk meraih keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kesempatan untuk membuktikan kesetiaan terhadap iman akhirnya tiba ketika Abdullah bergabung dalam pasukan muslimin untuk mengepung Kota Thaif yang kuat. Dalam pertempuran yang sengit tersebut, sebuah anak panah dari musuh berhasil mengenai tubuh Abdullah dan menimbulkan luka yang sangat parah. Beliau sempat dibawa kembali ke Madinah dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Atikah sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir sebagai seorang syahid.
Kepergian Abdullah meninggalkan duka yang mendalam, namun Atikah melepasnya dengan penuh rasa bangga atas status syahid yang berhasil diraih sang suami. Peristiwa tragis ini menegaskan kembali bahwa setiap pertemuan di dunia pasti akan menemui titik perpisahan yang telah ditetapkan oleh waktu. Sahabat MQ dapat merenungkan bahwa kematian di jalan Allah merupakan sebuah pencapaian tertinggi, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 169:
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup d sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”