Bahaya Laten Sifat Merasa Paling Benar

Perjalanan meningkatkan kualitas ibadah dan memperdalam ilmu agama terkadang menyisakan sebuah celah yang sangat rawan dimasuki oleh godaan setan. Sahabat MQ perlu bersikap ekstra waspada terhadap munculnya bibit-bibit penyakit hati yang membuat diri merasa lebih suci dibandingkan orang lain. Ketika seseorang mulai memandang rendah kualitas bacaan Al-Qur’an atau tingkat pemahaman agama saudaranya, saat itulah kesombongan telah bersarang di dalam jiwa.

Meremehkan orang lain hanya karena keterbatasan lahiriah mereka merupakan tindakan yang sangat berbahaya dan dapat merusak seluruh catatan amal kebaikan. Boleh jadi, sosok yang dipandang sebelah mata tersebut memiliki amalan-amalan rahasia yang jauh lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah yang Maha Bijaksana sering kali menyembunyikan kekasih-kekasih-Nya di antara hamba-hamba yang tampak biasa dan sederhana di mata makhluk.

Larangan keras untuk tidak saling merendahkan sesama muslim telah tercantum dengan sangat jelas di dalam kitab suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka.”

Hakikat Kesombongan yang Harus Dihindari

Penting bagi setiap penuntut ilmu untuk memahami definisi sejati dari sifat sombong agar tidak terjerumus ke dalam lubang kehancuran spiritual yang sama. Sombong bukanlah sekadar urusan mengenakan pakaian yang bagus atau penampilan yang rapi, melainkan sebuah sikap menolak kebenaran dan memandang rendah sesama manusia. Sifat ini merupakan warisan dari iblis yang menyebabkannya diusir dari surga untuk selama-lamanya.

Ketika hati telah terjangkit penyakit kesombongan, nasehat-nasehat kebaikan yang datang dari orang lain akan ditolak dengan mentah-mentah atas dasar merasa lebih tahu. Kondisi ini akan menutup pintu-pintu hidayah dan memperlambat proses pertumbuhan karakter menjadi lebih mulia. Sahabat MQ yang berjiwa besar senantiasa menempatkan diri dalam posisi pembelajar yang rendah hati di hadapan siapa pun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan batasan yang sangat tegas mengenai esensi dari kesombongan melalui sabda beliau yang sahih. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Menumbuhkan Sikap Husnuzon dalam Berinteraksi

Langkah konkret untuk mengikis habis ego dan sifat merasa paling saleh adalah dengan membiasakan diri berprasangka baik (husnuzon) kepada setiap hamba Allah. Jika melihat orang yang belum rajin beribadah, tanamkan keyakinan di dalam hati bahwa boleh jadi esok hari mereka akan bertaubat dengan taubat yang nasuha dan meraih derajat yang tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, saat melihat diri sendiri, tetaplah merasa penuh dengan kekurangan yang harus terus diperbaiki.

Proses menyempurnakan amal dan akhlak adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu serta kesabaran, bukan sebuah kompetisi untuk saling menjatuhkan. Melalui cara pandang yang penuh kasih sayang dan kerendahan hati, keharmonisan dalam hubungan persaudaraan akan tetap terjaga dengan utuh. Semoga Sahabat MQ senantiasa dianugerahi hati yang bersih, ilmu yang bermanfaat, serta terhindar dari segala bentuk kesombongan yang merusak.