Jebakan Niat yang Keliru dalam Menuntut Ilmu

Bagi Sahabat MQ yang gemar menghadiri majelis taklim, aktivitas menuntut ilmu tentu menjadi rutinitas yang sangat menenteramkan hati. Namun, pernahkah terbersit tanya mengapa perubahan akhlak terasa begitu lambat meskipun catatan kajian sudah menumpuk? Salah satu faktor utama yang sering kali luput dari perhatian adalah orientasi hati saat melangkahkan kaki ke majelis ilmu. Ketika ilmu agama dipelajari hanya demi mengejar status sosial, pujian makhluk, atau sekadar terlihat saleh, esensi keberkahan dari ilmu tersebut perlahan akan memudar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui setiap getaran dan bisikan yang bersemayam di dalam dada manusia. Segala bentuk kepalsuan niat tidak akan mendatangkan rida-Nya, melainkan hanya menyisakan kelelahan fisik semata. Terkait hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an Surat Qaf ayat 16:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Oleh karena itu, meluruskan niat menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar dalam setiap proses belajar. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang mampu mengantarkan jiwa untuk semakin tunduk dan takut kepada Allah, bukan justru menjadikannya alat untuk mencari kedudukan duniawi. Saat niat telah murni totalitas karena Allah, cahaya ilmu akan dengan mudah meresap dan menuntun perilaku sehari-hari menjadi lebih mulia.

Bahaya Ilusi Ilmu yang Menipu Hati

Penyebab kedua yang sering kali membuat seseorang stagnan dalam berakhlak adalah terjebak di dalam ilusi ilmu. Sahabat MQ perlu waspada terhadap perasaan halus yang membisikkan bahwa diri ini sudah menjadi orang saleh hanya karena telah mengetahui banyak dalil. Pengetahuan yang luas terkadang memunculkan rasa puas diri yang semu, seolah-olah aktivitas memahami sebuah teori kebaikan sudah sama nilainya dengan mempraktikkan kebaikan tersebut dalam realitas kehidupan.

Kondisi terjebak dalam wacana tanpa aksi nyata ini merupakan sebuah kerugian yang sangat besar bagi seorang penuntut ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras melalui sabda beliau mengenai pentingnya keselarasan antara ucapan dan perbuatan. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ

“Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka, maka keluarlah usus-usus perutnya di dalam neraka, lalu dia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai pada alat penggilingannya.”

Peringatan yang begitu menggetarkan jiwa ini menunjukkan bahwa sekadar tahu tidak akan pernah cukup untuk menyelamatkan seseorang. Mengetahui adab bertetangga tentu sangat berbeda dengan kemampuan menahan diri dari menyakiti perasaan tetangga. Dengan demikian, memecahkan dinding ilusi ini memerlukan keberanian untuk terus mengevaluasi diri dan tidak cepat merasa aman dengan tumpukan wawasan yang dimiliki.

Pentingnya Mujahadah dalam Membersihkan Jiwa

Perjalanan memperbaiki diri tidak akan pernah mencapai titik puncaknya jika Sahabat MQ hanya berfokus pada amalan-amalan lahiriah semata. Memang benar bahwa rajin mendirikan salat tahajud, konsisten membaca Al-Qur’an, dan gemar bersedekah adalah amalan yang sangat utama. Namun, keindahan amalan fisik tersebut akan menjadi cacat seketika apabila di dalam hati masih subur penyakit-penyakit kronis seperti ujub, ria, dengki, dan sombong.

Membersihkan hati atau yang sering disebut dengan istilah tazkiyatun nafs memerlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Tanpa adanya mujahadah (perjuangan keras) untuk menata hati, perkataan yang keluar dari lisan seorang penuntut ilmu sering kali justru melukai perasaan orang lain. Karakter yang terbiasa melempar kritik tajam atau tanggapan yang menyakitkan merupakan tanda nyata dari kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang batin.

Proses perbaikan ini menuntut setiap individu untuk meniru keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa menjaga kelembutan hati dan keluhuran budi pekerti. Ketika batin telah bersih melalui proses mujahadah yang konsisten, ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis akan termanifestasikan dengan indah melalui tutur kata yang santun serta perilaku yang menyejukkan. Inilah muara sejati dari aktivitas menuntut ilmu yang diridai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.