Konflik rumah tangga sering muncul karena perbedaan psikologis: suami ingin dihargai sebagai pemimpin, sementara istri ingin diperhatikan tanpa harus meminta. Di bulan puasa ini, emosi yang mudah tersulut harus diredam. Suami perlu belajar lebih peka, dan istri perlu belajar mengomunikasikan keinginannya dengan lembut tanpa melukai ego suami.
Allah berfirman:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)
Sabar Itu Aktif, Bukan Pasif Tergeletak Lemas
Jangan salah kaprah, sabar dalam Islam bukan berarti diam saat melihat kekurangan pasangan. Sabar yang diajarkan puasa adalah sabar yang bergerak maju. Jika suami kurang semangat ibadah, istri tidak hanya diam, tapi mengajak dengan cara yang apresiatif, misalnya memulai dari salat satu rakaat atau mengaji satu halaman Bersama.
Kekuatan Apresiasi di Meja Makan
Laki-laki sangat senang jika kemampuannya diakui. Saat Ramadan, momen berbuka bisa jadi ajang perbaikan komunikasi. Jangan biarkan kelelahan mengurus rumah menghapus pahala puasa Anda. Gantilah omelan dengan kalimat apresiasi yang tulus, maka suami akan lebih tergerak untuk membantu tanpa merasa dihakimi.
Rasulullah bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
• Live Streaming
102.7 MQFM Bandung
Assalamu'alaykum Sahabat MQ, silahkan dapat menyampaikan pertanyaan disini melalui WhatsApp MQFM