Definisi Orang Bangkrut Menurut Rasulullah
Banyak orang mengira kebangkrutan hanya berkaitan dengan hilangnya harta benda atau uang di dunia. Namun, Ustaz Suherman menjelaskan konsep kebangkrutan yang jauh lebih mengerikan, yaitu kebangkrutan di akhirat atau disebut sebagai “Muflis”. Orang yang bangkrut adalah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa segunung pahala salat, zakat, dan puasa, namun pahalanya habis tergerus oleh dosa kepada sesama.
Kebangkrutan ini terjadi karena adanya tindakan menzalimi orang lain selama hidup di dunia, seperti mencaci, memukul, atau memakan harta orang lain secara haram. Di pengadilan Allah, pahala-pahala orang tersebut akan diambil dan diberikan kepada orang yang dizaliminya sebagai bentuk ganti rugi. Jika pahalanya habis sementara tuntutan belum selesai, maka dosa orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya.
Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi kita semua untuk tidak hanya fokus pada ibadah ritual semata. Hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) memiliki kedudukan yang sangat penting dan dapat menentukan nasib akhir kita. Jangan sampai puasa yang melelahkan justru menjadi sia-sia karena perilaku buruk kita kepada orang-orang di sekitar.
Dosa Sosial yang Menghanguskan Amal
Menyakiti perasaan orang lain, baik secara fisik maupun verbal, adalah salah satu cara tercepat untuk mentransfer pahala kita kepada mereka. Ustaz menekankan bahwa perilaku seperti membully, menghina fisik, atau menyebar fitnah adalah bentuk kezaliman yang serius. Di era digital, hal ini bisa terjadi dengan mudah melalui komentar-komentar pedas di media sosial yang sering dianggap remeh oleh pelakunya.
Allah Subhana Wata’ala berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Hujarat Ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”
Selain itu, masalah utang piutang yang tidak diselesaikan dengan sengaja juga termasuk dalam kategori kezaliman yang menghambat pahala. Banyak yang rajin beribadah di masjid namun abai terhadap tanggung jawab finansial kepada saudaranya. Hal-hal semacam inilah yang sering kali menjadi penghalang diterimanya amal saleh kita di sisi Allah SWT.
Rasulullah Bersabda: “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah: 2410)
Untuk menghindari kebangkrutan ini, kita perlu segera meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti. Jika pernah menggibah seseorang dan ia belum mengetahuinya, doakanlah kebaikan baginya sebagai bentuk penebusan. Kesadaran untuk memperbaiki hubungan sosial adalah kunci agar tabungan pahala Ramadan kita tetap utuh hingga hari perhitungan nanti.
Strategi Menjaga Keutuhan Pahala
Langkah awal untuk menjaga pahala adalah dengan memiliki ilmu yang cukup tentang apa saja yang merusaknya. Ustaz menyarankan agar kita rutin mengikuti kajian atau membaca buku fikih Ramadan untuk memperdalam pemahaman. Dengan ilmu, kita menjadi lebih peka terhadap setiap tindakan yang kita lakukan sehari-hari, apakah itu mendatangkan rida Allah atau justru murka-Nya.
Selalu melakukan muhasabah atau introspeksi diri setiap saat adalah cara efektif untuk tetap berada di jalur yang benar. Jika merasa telah melakukan kesalahan atau dosa lisan, segera ucapkan istigfar dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Istigfar bertindak sebagai “antivirus” yang membersihkan noda-noda dosa yang masuk ke dalam catatan amal kita selama berpuasa.
Menyibukkan diri dengan target amal yang positif juga akan meminimalisir peluang kita untuk berbuat maksiat. Buatlah jadwal harian yang padat dengan zikir, membaca Al-Qur’an, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Ketika lisan sibuk berzikir dan mata sibuk membaca ayat suci, maka keinginan untuk menggibah atau melihat hal buruk akan hilang dengan sendirinya.